Uncategorized

All posts in the Uncategorized category

Same Mistakes – Part 1

Published November 1, 2014 by hestiikharani

Title: Same Mistakes
Author: hesti khairani (@hestiikharani)
Cast: Oh Sehun, Hwang Nara (OC), other cast
Genre: romance, abuse.

——————————-

Brzzz Brzzz.”

Getaran alarm itu berasal dari Handphone yang terletak diatas nakas, dan sudah sekian kalinya direject oleh pemiliknya, bahkan tanpa membuka mata. Bunyi alarm yang ketiga akhirnya membuat pemilik barang itu terbangun, menggeliat pelan dan membuka matanya yang berat.

Ah…mimpi…ternyata kebebasan yang indah itu hanya terjadi didalam mimpi.

Dengan enggan gadis itu melirik jam dinding kamarnya. Pukul 6.10 am. sontak matanya membesar dan tanpa melirik dua kali ia segera meloncat dari tempat tidur dan meraih handuk, seraya melangkah terseok-seok menuju kamar mandi.

“Aku terlambat! Jangan sampai dia marah lagi!”

Nara mandi dengan cepat. Menyabun tubuhnya dengan tergesa, mencuci muka dan menggosok gigi. Semuanya dilakukan dengan terburu-buru. Pagi ini ia melewatkan ritual “konser mini” yang biasa dilakukannya di kamar mandi.

Dengan badan yang belum sepenuhnya kering Nara melangkah keluar kamar mandi hanya berbalut handuk, berlari kecil menuju lemari untuk menemukan seragam sekolahnya.

Ketukan di pintu membuatnya tersentak. Dia datang.

“Apa kau sudah siap?” Tanya seseorang dibalik pintu.

“H-hampir!” Balas Nara.

“Cepat. Aku tunggu dibawah.” Ujar suara itu datar, lalu terdengar suara langkah kaki menjauh menuju kebawah.

Nara dengan sigap memakai seragam sekolahnya, menyisir rambut dan memoleskan bedak tipis di wajahnya. Setelah itu ia meraih tas nya dan bergegas turun ke bawah.

Dimeja makan sudah ada seseorang yang menunggunya.

Oh Sehun. Anak tunggal dari pasangan Oh. Tampan, tinggi, berkulit putih, memiliki body ramping dan aura maskulin. Dia type pria yang tidak bisa melewati suatu tempat tanpa mencuri perhatian para wanita, dan suatu kebohongan yang besar jika kau bilang dia tidak hot. Dan luar biasa menggoda.

Namun sayang sekali, ia dingin, bahkan sangat dingin. Nyaris sedingin es beku pada Gunung Es.

Terutama sekali kepadanya.

“Kenapa lama sekali?” Tanyanya.

“Aku terlambat bangun,” jawab Nara pelan.

“Cepat sarapan, aku sudah selesai.” Ujarnya dingin seraya bangkit. Nara hanya mengangguk sembari menggigit sandwichnya.

Setahun yang lalu, ayah Nara, Tuan Hwang, dipindahtugaskan oleh perusahaannya ke New York, yang membuat keluarganya mau tak mau harus pindah kesana. Namun Nara berkeras untuk menyelesaikan sekolahnya di Korea sebelum menyusul orang tuanya. Karena itulah, orangtuanya memercayakannya kepada Nyonya dan Tuan Oh, yang merupakan sahabat mereka sedari kecil.

Namun bagaimanapun juga, rumah itu terlihat lengang dan sepi. Hanya ada dirinya, Sehun, dan Park ahjumma. Nyonya dan Tuan Oh saat ini sedang berada di China untuk urusan bisnis, dan yeah, sejujurnya mereka jarang sekali pulang kerumah. Hanya 1-2 bulan sekali dalam setahun terakhir ini. 

Sejujurnya Nara benci hal ini. Ia tidak suka suasana yang sepi, dan terlebih lagi, ia tak suka bersama Sehun berdua saja.

Dengan terburu-buru Nara menyelesaikan sarapan paginya lalu bergegas menghampiri mobil Sehun,duduk di kursi penumpang dan memasang seatbeltnya.

Tanpa banyak bicara, Sehun menyalakan mobilnya dan mereka berangkat menuju sekolah.

*****

Sesampainya diparkiran sekolah, Nara segera turun dari mobil tanpa bicara sepatah katapun. Namun Sehun menahan lengannya.

“Nanti aku ada latihan basket sepulang sekolah. Tunggu aku dan jangan pulang duluan. Kau mengerti?” Ujar Sehun tajam.

Nara hanya mengangguk malas. Latihan basket yang sehun lakukan bisa sampai 3 jam lamanya, dan sejujurnya dia enggan sekali harus menunggu selama itu.

“Sampai bertemu nanti.” Ujar Nara pelan lalu melangkah keluar dari mobil, sementara Sehun mencari tempat parkir yang kosong.

Yeah, sejujurnya Sehun selalu menurunkan Nara di tempat yang agak sepi, sehingga tak seorangpun yang melihat mereka turun dari mobil yang sama. Tak seorangpun di sekolah yang tahu bahwa mereka tinggal serumah. Mereka sepakat untuk merahasiakan hal ini dari orang-orang disekolah. Bagaimanapun juga, dengan wajah yang tampan dan kemampuan bermain basket yang hebat, membuat Sehun memiliki banyak sekali penggemar di sekolah. Hampir semua gadis-gadis kelas 1 dan 2 mengidolakannya. Bahkan tidak sedikit sunbae mereka dari kelas 3 yang juga menggilainya. Nara bahkan yakin, gadis-gadis itu rela menjual separo jiwa mereka agar dapat berkencan dengan Sehun. Hal ini tentu saja akan membuat posisinya berada didalam bahaya jika semua orang tahu bahwa ia tinggal serumah dengan Sehun. Ia tak akan bisa hidup dengan tenang lagi.

Nara mendengus pelan. Mereka belum tahu saja bagaimana watak anak tunggal dari keluarga Oh itu.

*

“Psst!” Jae Hyun berbisik ditengah-tengah pelajaran Matematika yang membosankan.

Nara yang sedang mencoret-coret bukunya tanpa tujuan,menoleh ke arah teman sebangkunya.

“Apa?” Balasnya pelan.

“Tadi kau pergi bersama Oh Sehun lagi?” Tanya Jae Hyun.

Nara mengangguk malas. “Memangnya dengan siapa lagi? Ia tak akan membiarkanku pergi sendiri.” Ujar Nara. Jae Hyun adalah sahabat sekaligus teman sebangkunya, ia salah satu dari sedikit orang yang tahu hubungan rumit antara Nara dan Sehun.

“Apa dia masih memperlakukanmu seperti biasanya?” Bisik Jar Hyun.

Nara mengangguk getir. “Bahkan seminggu terakhir ini lebih parah.”

Jae Hyun menatapnya sedikit iba. “Tidak bisakah kau melakukan sesuatu?”

Nara menatapnya sesaat. “Seperti apa misalnya? Aku tak punya pilihan. Lagipula hanya tinggal satu setengah tahun lagi aku berada di korea sebelum menyusul keluargaku.”

“Tapi….”

“Sudahlah Jae Hyun, aku tahu apa yang kulakukan.” Nara tersenyum,berusaha menenangkan sahabatnya. Mau tak mau Jae Hyun kembali fokus ke depan, menghadap ke Mr Park yang mulai sedikit terganggu dengan pembicaraan kecil mereka.

Drrt drrt. Hp Nara bergetar.

1 new message.
From: Sehun
Aku lapar. Belikan aku jajangmyeon di kantin dan antarkan ke kelasku. 2 mangkok. 1 untuk Irene. Aku akan memakannya setelah jam olahraga usai.

Nara membacanya dan mendesah. Ia tertawa getir.

“Ada apa?” Tanya Jae Hyun heran. Nara hanya menggeleng.

“Dari sehun? Dia menyuruhmu melakukan sesuatu lagi?” Tembak Jae Hyun. Nara mendesah.

“Aku harus keluar.” Bisik Nara.

“Tidak bisakah kau menolaknya saja?” Desak Jae Hyun. Nara hanya menggeleng dan bangkit dari duduknya seraya meminta izin dari Mr Park untuk keluar kelas. Jae Hyun hanya menatapnya iba.
*

“Nara~ya, apa yang akan kau lakukan setelah pulang sekolah?” Tanya Jae Hyun saat bel pulang berbunyi.

Nara mengangkat bahu seraya membereskan buku-bukunya. “Menonton tv mungkin, atau melanjutkan membaca novel yang kubeli semalam.”

“Membosankan!” Sergah Jae Hyun. “Bagaimana kalau kau pergi menemaniku ke mall hari ini? Aku ingin mencari gaun baru untuk kupakai saat mengunjungi nenekku di Busan minggu depan.”

Nara menggeleng. “Aku tidak bisa. Aku sudah bilang kepada Sehun aku akan pulang dengannya.” Ujarnya seraya mereka berdua berjalan keluar kelas.

Jae Hyun memicingkan matanya menatap kearah lapangan. “Tapi bukankah itu Oh sehun? Dan ya, Tim basket ada jadwal latihan resmi hari ini!” Serunya.

Nara mengangkat bahu. “Aku tahu. Aku akan menunggunya.” Ujar Nara datar.

Jae Hyun terbelalak. “Tapi latihan itu bisa 3-4 jam! Kau mau mati bosan?” Serunya tak percaya.

Nara mendesah. “Aku tahu. Tapi aku tak punya pilihan lain. Dia menyuruhku menunggunya untuk pulang bersama.” Ujar Nara pelan.

Jae Hyun tak menjawab. Matanya menelusuri lapangan basket itu dan dia mendengus. “Lihat, Oh Sehun bersama Irene. Dan oh astaga..”

Jae Hyun terbelalak menatap lapangan. Disana tampak Sehun sedang mengusap-usap kepala Irene dan tertawa, sementara gadis itu bergelayut dilengannya.

“Dia bermesraan didepan umum bersama pacarnya, sementara dia pergi dan pulang sekolah bersama-sama dengan gadis lain setiap hari! Kenapa dia tidak pulang bersama gadisnya saja? Kenapa dia selalu memaksa untuk pulang bersamamu?” Ujar Jae Hyun seraya mendesis.

Nara hanya menatap datar. “Entahlah. Mungkin karena kami tinggal serumah.” Ujarnya getir.

Jae Hyun memutar bola matanya. “Oh ayolah, rumah kita searah dan aku akan dengan senang hati mengantarmu setiap hari! Dia tak perlu cemas. Lebih baik dia urusi saja gadisnya itu.”

Sehun dan Irene sudah berpacaran 6 bulan lamanya, dan mereka disebut-sebut sebagai couple of the year di sekolah. Irene cantik, seksi, memiliki mata yang indah, kulit seputih susu, dan rambut kecokelatan yang menggoda. Banyak sekali yang iri dengan pasangan itu, karena tak bisa dipungkiri bahwa mereka sangat cocok satu sama lain. Yang satu cantik dan seksi, sementara yang satu luar biasa tampan.

“Umm…yeah.” Nara tak tahu harus bilang apa.

Jae Hyun tak menyerah. “Ayolah, Nara~ya. Aku yakin dengan gadis itu yang datang menyemangatinya, ia tak akan ingat padamu. Lebih baik kau temani aku saja. Nanti akan kuantar pulang. Ayo!” Tarik Jae Hyun.

“Ta..tapi..” Nara ragu-ragu.

“C’mon! Nanti akan kutraktir ice cream kesukaanmu.” Seru Jae Hyun seraya menarik lengan Nara menuju mobilnya.

“Iy..iya iya!! Baiklah..tapi aku akan memberitahu Sehun dulu bahwa aku pulang denganmu.” Seru Nara seraya merogoh sakunya mencari Handphone. Jae Hyun hanya melipat lengannya di dada. Menunggu dengan tidak sabar.

To: Sehun.

Sehun~ah, Jae Hyun memintaku menemaninya membeli sesuatu di mall. Kulihat kau masih sibuk berlatih, jadi aku akan pulang dengannya hari ini. Semoga sukses dengan latihanmu.

Sent.

“Ayo cepat!” Jae Hyun menarik lengan Nara dengan tak sabar. Gadis itu hanya bisa pasrah mengikuti sahabatnya meninggalkan tempat itu.

***

Sepanjang sisa hari itu, Nara bersenang-senang bersama sahabatnya, sedikit menikmati kebebasan yang jarang didapatkannya. Mereka membeli beberapa baju dan pakaian dalam, mengecat kuku dan melakukan perawatan di salon, serta tak lupa menikmati waffle coklat dengan ice cream diatasnya.

Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 8 malam. Mereka berjalan menuju parkiran mobil seraya menenteng plastik belanjaan mereka.

“Hari ini cukup menyenangkan bukan?” Tanya Jae Hyun seraya menstarter mobilnya.

“Yeah, aku menikmatinya.” Ujar Nara.

Jae Hyun menjentikkan jarinya didepan Nara. “Kau harus lebih sering bersenang-senang. Jangan hanya menghabiskan waktumu dirumah saja. Kau harus belajar menikmati dunia. Hidup terlalu singkat untuk disia-siakan.” Ujar Jae Hyun seraya terkekeh kecil.

“Umm..yeah. Baiklah kalau begitu,Miss Yang Suka Bersenang-Senang.” sahut Nara terkekeh.

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Sehun? Apa dia menghubungimu?” Tanya Jae Hyun tiba-tiba. Nara terdiam.

“Aku tak tahu. HP ku mati setelah mengiriminya SMS.” Sahut Nara pelan. Tiba-tiba saja dia sedikit takut.

“Apakah ia masih bersikap seperti biasanya terhadapmu?” Tanya Jae Hyun. Raut wajahnya berubah serius.

“Yeah..” sahut Nara getir.

“Lalu…apakah tidak apa-apa kita pulang malam begini? Apa dia tidak marah?”tanya Jae Hyun cemas.

Nara hanya mengangkat bahu. “Sudahlah, lagipula hanya sekali-sekali kita seperti ini.” Sahutnya mencoba tersenyum.

“Oh maafkan aku Nara. Jika kau mendapat masalah itu semua salahku. Aku yang memaksamu menemaniku.” Ratap Jae Hyun.

Nara hanya tersenyum menenangkannya. “Sudahlah, tak apa-apa. Aku sudah biasa menghadapinya.”

“Kau yakin?” Tanya Jae Hyun memastikan.

“Yeah. Lebih baik kita pulang sekarang.”

“Baiklah kalau begitu, kita pulang sekarang.” Ujar Jae Hyun seraya tancap gas.

*****

Nara membuka pintu rumah dengan hati-hati, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara apapun. Dalam hati ia tak berhenti berharap bahwa Sehun sedang berada didalam kamar, sehingga ia tak perlu berpapasan dengannya.

Sepertinya doanya tak terkabul. Karena Oh Sehun sedang duduk menonton TV diruang tamu.

Sehun menoleh dan mendapati Nara yang baru saja pulang menenteng banyak plastik belanjaan,masih lengkap dengan seragam sekolahnya.

“Dari mana saja kau?” Tanya nya dingin,melirik sesaat kearah Nail Art gadis itu yang berkilauan ditempa cahaya lampu.

“A..aku..bukankah aku sudah mengirimimu SMS? Aku hanya menemani Jae Hyun berbelanja….”

“Dan apakah kau tidak membaca SMS ku? Aku sudah bilang bahwa aku tidak mengizinkanmu pergi kemanapun…dan tahukah kau sudah berapa puluh kali aku meneleponmu hari ini?” Sehun beranjak dari duduknya dan perlahan mendekati gadis itu,tatapannya yang tajam terasa menusuk kulit Nara.

“Aku hanya menemani Jae Hyun berbelanja dan kami hanya pergi ke mall! Apakah pergi ke mall merupakan suatu kejahatan? Dan juga HPku mati…jadi aku…..” Nara mundur melihat tatapan kemarahan yang diberikan Sehun kepadanya.

“Kau bisa menghampiriku dan mengatakannya langsung padaku! Aku selalu berada di lapangan sekolah siang tadi. Kenapa kau pergi begitu saja? Kau. Tidak. Bisa. Pergi. Kemanapun. Tanpa. Seizinku. mengerti?” Desisnya,semakin mendekat sehingga jarak diantara mereka hanya tinggal beberapa meter. Nara ketakutan.

“Ku..kulihat kau sedang bercanda dengan Irene, makanya aku tak ingin menganggu!” Ujar Nara cepat,mulai merasa tak nyaman.

“Itu bukan alasan. Apa belum cukup jelas apa yang kukatakan padamu tadi pagi? Kita pulang bersama. Kau harus menungguku main basket. Apa kau tidak mendengarkan?” Sehun terlihat marah dan Nara semakin ketakutan.

“M..m..maafkan aku.” Ujar Nara. Tapi Sehun tak peduli. Ia merampas barang belanjaan Nara dan melemparnya begitu saja di kursi. Lalu ia menarik lengan gadis itu dengan kasar. Menyeretnya pergi dari situ. Nara panik.

“S..sehun-ah..lepaskan aku!”

Sehun tak menjawab. Nara terus meronta, tetapi Sehun justru memperkuat cengkramannya pada gadis itu. Membuatnya kesakitan.

“S..s..sehun-ah, sakit! Tolong lepaskan aku. Aku tak akan melakukannya lagi. Aku berjanji!” Airmata mulai berjatuhan di pipi Nara, sementara Sehun terus menariknya menuju kelantai atas. Ke kamar gadis itu.

Nara tak tahu apa yang akan dilakukan Sehun padanya,sampai akhirnya Sehun membuka pintu kamar mandi, dan Nara semakin ketakutan.

“J..j..jangan! Kumohon jangan!!” Airmata keluar membasahi pipi gadis itu, tapi terlambat.

Sehun menghempaskan lengan gadis itu dengan kuat,membuat Nara terhuyung, dan tanpa berbicara sepatah katapun ia keluar dari kamar mandi dan mengunci pintu dari luar.

“S..s..sehun!! Kumohon jangan!! Disini d..dingin Sehun-ah. Lepaskan aku!!” Nara mulai terisak tak terkendali.

“Aku tak bisa memaafkanmu begitu saja. Anggap saja ini pelajaran bagimu. Kau tidak berhak pergi kemanapun tanpa seizinku.” Suara dingin Sehun terdengar datar, lalu sesaat kemudian terdengar suara pintu kamar dibanting. Sehun sudah pergi.

Nara semakin ketakutan. Takut akan dinginnya udara malam yang bisa membekukan sumsum tulangnya. Saat itu musim semi, namun percayalah, udara malamnya bisa membuatmu menggigil hingga ke tulang.

“Oh Sehun!! Kumohon buka pintunya..OH SEHUNN!!!!”

Gadis itu menggedor-gedor pintu kamar mandi diiringi dengan tangisnya yang mulai pecah,berharap Sehun berubah pikiran. Namun tampaknya percuma saja. Sehun sudah keluar dari kamar dan ia terlihat tanpa belas kasihan.

Tubuh Nara merosot pada ubin yang dingin dan ia mulai menggigil, tergigit oleh dinginnya suhu udara malam.

Yeah, seperti itulah hubungan mereka. Mereka bukan saudara, bukan pula sepasang kekasih.

Tapi Sehun sangat over protective terhadapnya. Semua yang Nara lakukan harus selalu dibawah pengawasan Sehun. Jika tidak, Sehun akan menghukumnya. Ia pasti akan mendapat hukuman jika hal yang dilakukannya tidak sesuai dengan keinginan Sehun.

Seperti saat ini.

Dan ini bukan pertama kalinya.

Sebelum ini ia pernah dikurung didalam rumah selama tiga hari penuh, sementara Sehun pergi. Saat itu Sehun harus pergi ke acara camping yang diadakan oleh teman sekelasnya dan dia tak ingin Nara keluar rumah tanpa seijinnya.

Sehun juga pernah menyuruhnya pergi ke sekolah dengan berjalan kaki,hanya karena Nara menolak pergi dengannya dan memilih untuk naik bus ke sekolah. Akibatnya, Sehun marah dan memaksanya berjalan kaki ke sekolah, serta menyita dompet dan handphone nya. Saat tiba di sekolah, Nara sudah sangat terlambat. Dan sialnya, saat itu sedang ada razia bagi murid yang terlambat, sehingga Nara mendapatkan hukuman untuk membersihkan WC di sekolah.

Sehun juga pernah memasukkannya ke kamar bersama seekor ular lalu menguncinya semalaman. Sehun tahu betapa benci dan takutnya Nara terhadap binatang melata, terlebih lagi ular. Meskipun ular itu tidak lagi berbisa,namun tetap saja itu menakutkan. Nara menghabiskan waktu malam itu tanpa tidur, dan hanya menatap ular itu tanpa berkedip. Memastikan ular itu berada cukup jauh darinya.

Itulah cara-cara yang lelaki itu gunakan untuk menghukumnya.

Namun itu hanyalah beberapa contoh. Masih banyak lagi hal-hal yang Oh Sehun lakukan terhadapnya.

Sehun juga sering menyelinap ke kamarnya pada tengah malam, berkata bahwa ia tidak bisa tidur karena penyakit insomnia yang sedang kambuh, lalu berbaring disebelah Nara dan ikut bergelung di kegelapan malam. Sehun juga suka memeluk tubuh Nara dibalik selimut yang mereka bagi bersama, dan berkata bahwa itu akan memudahkannya untuk tertidur. Nara tidak punya pilihan lain,tapi ia juga tidak begitu keberatan. Bagaimanapun juga, pelukan Sehun terasa hangat, dan membuatnya merasa aman.

Mereka hanya tinggal berdua dirumah besar itu. Park ahjumma tidak tinggal bersama mereka, hanya datang tiap pagi untuk membersihkan rumah dan membuat makanan untuk mereka berdua, lalu kembali pulang kerumahnya sendiri pada sore harinya.

Sementara itu orang tua Sehun sedang berada di China untuk urusan bisnis, dan dikabarkan akan pulang minggu lalu. Namun mereka berkata bahwa kepulangan mereka ditunda menjadi minggu depan, dan yeah. Sejujurnya hal itu sering sekali terjadi. Mereka jarang sekali pulang. Bisa dibilang hanya sekali dalam 3 bulan.

Hal itu otomatis membuat Nara hanya tinggal berdua saja dengan Sehun.

Dan sejujurnya, Nara tidak mengerti dengan sikap Sehun kepadanya. Sehun sangat over protective, dan berlebihan. Jika itu menyangkut Nara, semuanya harus terjadi atas seijinnya.

Nara bukan pacarnya, Sehun bahkan sudah memiliki kekasih. Dan sikap Sehun terasa seperti menindasnya. Membuatnya merasa terjajah.

Tapi,entahlah, Nara sendiri tidak mengerti kenapa ia menjadi begitu lemah dan tidak berdaya terhadap Oh Sehun. Hidup dan kebebasan yang seharusnya menjadi miliknya seutuhnya, kini dikontrol oleh seorang laki-laki yang bahkan bukan siapa-siapanya.

Dan mirisnya, Nara juga tidak punya cukup keberanian untuk mengambil hak dan kebebasannya itu kembali.

Oh Sehun bisa menjadi sangat kejam, Nara tahu itu. Tapi entah kenapa ia tak pernah kuasa untuk terlepas dari belenggu yang lelaki itu ciptakan terhadapnya.

*************

Sehun terbangun pagi itu dengan gelisah. Semalaman tidurnya tak nyenyak. Pagi ini ia bahkan terbangun begitu cepat, padahal waktu baru menunjukkan pukul 4 pagi.

Pagi itu dingin sekali.

Dan ia merasa sangat bersalah.

Tadi malam dia memang sedang emosi. Nara pergi begitu saja tanpa seijinnya dan gadis itu bahkan tidak bisa dihubungi sama sekali.

Ia sangat marah dan satu-satunya hal yang ingin dia lakukan hanyalah menghukum gadis itu hingga jera.

Dan kini saat amarahnya mereda, dia mulai menyesal.

Dengan segera Sehun beranjak dari kasur lalu berjalan menuju kamar Nara dengan terburu-buru.

Sehun membuka pintu kamar mandi dan mendapati Nara duduk didalam bathub seraya memeluk lututnya sendiri,berusaha mencari kehangatan. Wajah gadis itu pucat pasi,bibirnya mulai membiru,dan seluruh badannya gemetar kedinginan.

Gadis itu setengah pingsan.

“Hwang Nara!” Sehun bergegas menghampiri gadis itu, dan memeluknya. Tanpa membuang waktu dia bergegas menggendong tubuh gemetar itu dan membawanya keluar dari kamar mandi yang dingin.

Mata Nara terpejam,dan ia tak bisa berhenti menggigil. Sehun membaringkannya di kasur yang hangat, memakaikannya kaus kaki, sarung tangan dan jaket, lalu menyelimutinya dengan selimut tebal.

“Istirahatlah.” Bisiknya.

Tubuh Nara perlahan mulai berhenti gemetar, namun wajah itu masih sepucat sebelumnya. Gadis itu menggeliat dan merubah posisi tidurnya tak tentu arah, masih terlihat sangat tidak nyaman.

Sehun menatap wajah pucat itu dan mengelus rambutnya dengan lembut.

Dia tahu, Nara menderita. Dan itu karenanya.

Dia tahu itu.

*****
Nara terbangun siang harinya setelah kejadian itu. Saat ia bangun, waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Dengan perlahan Nara menatap ke sekelilingnya, berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi.

Kamar mandi. Dingin. Dan…Oh Sehun.

Lalu ia tak ingat apapun lagi.

Nara memegangi kepalanya yang terasa pusing. Yeah, semalam Oh Sehun menghukumnya lagi.

Dengan tersendat Nara beranjak dari kasur menuju lemari pakaian, dan mengganti bajunya menjadi piyama. Ia menyadari jaket, kaus kaki, dan sarung tangan yang tak ingat entah kapan dipakainya kini terpasang manis ditubuhnya. namun ia melepaskannya begitu saja.

Tubuhnya sudah tidak kedinginan lagi,meskipun kepalanya sedikit pusing. Dinginnya malam di WC itu mengerikan, dan dia lebih suka menghabiskan malam bersama seekor ular daripada terkurung didalam WC yang dingin.

Dengan tertatih Nara berjalan keluar kamar. Rumah itu terlihat lengang dan sepi. Oh Sehun belum pulang dari sekolah.

Nara melangkah terseok menuju dapur, ingin mencari sesuatu untuk dimakan. Namun ternyata ada sepanci bubur terletak diatas meja makan. Nara membuka panci itu dan mencoleknya sedikit. Bubur itu sudah dingin.

Disebelahnya ada sebuah kertas. Isinya berbunyi:

“Makanlah. Tapi sebelumnya panaskan dulu. Saat kau bangun buburnya pasti sudah dingin.”

Tulisan tangan Oh Sehun.

Tanpa perubahan ekspresi apapun, Nara meletakkan kertas itu di meja, lalu duduk dan mulai menyendoki bubur itu. Ia terlalu lelah untuk sekedar berdiri dan memanaskan bubur kembali, sehungga ia memutuskan untuk  memakan bubur dingin itu begitu saja.

Seluruh badannya pegal dan kelelahan. Kepalanya pusing. Tapi setidaknya ia sudah merasa hangat kini. Sejujurnya Nara benci kedinginan. Nara benci merasa dingin dan Sehun tahu itu.

Nara tertawa getir. Kenapa hidupnya terasa begitu menyedihkan? Kenapa orang seperti Sehun bisa dengan begitu mudah menyiksa dan membuatnya menderita? Apakah ia memang semenyedihkan itu?

Suara decit pintu mengagetkannya. Wajah Oh Sehun muncul dari balik pintu. Nara membeku.

Sehun menatapnya dan berjalan kearah meja makan. Mata itu  tak lepas darinya. Nara tak tahu harus berkata apa jadi dia hanya diam sambil menyendok buburnya.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya kaku.

Nara mendongakkan kepala,menatap Sehun yang sudah berdiri dihadapannya.

“Baik..aku baik.” Nara memaksakan senyum, meskipun getir.

Sehun menatap bubur dimeja dan menyentuhnya. Ia mengerutkan kening.

“Kau tidak memanaskannya?”

Nara hanya menggelengkan kepala. “Aku hanya merasa agak lelah jadi aku memutuskan untuk memakannya dalam keadaan dingin. Bagaimana harimu? Kenapa kau pulang cepat hari ini?” Nara memaksakan senyum diwajahnya. Dia tahu, dia harus selalu bersikap baik didepan Oh Sehun. Dia harus selalu tersenyum, semenyedihkan apapun keadaannya saat itu. Dia hanya tak ingin dihukum lagi.

Sehun menatapnya lama. “Aku sengaja pulang cepat untuk melihatmu.” Ujarnya.

Nara memaksakan tawa kecil,meskipun sumbang. “Seperti yang kau lihat, aku baik. Kau tak perlu memaksakan diri.”

Nara menelan suapan terakhir buburnya dan membereskan piringnya, meletakkannya ke bak cuci piring begitu saja tanpa menunggu reaksi Sehun. Ia berjalan tertatih-tatih kembali ke kamarnya,berusaha keras agar tidak jatuh karena kepalanya yang terasa sangat pusing.

Sehun hanya menatapnya dari belakang dalam diam. Perasaan bersalah mulai merambatinya saat melihat tubuh ringkih itu berjalan tertatih.

Sehun ingin mengejarnya dan memeluk tubuh lemah itu, berkata bahwa ia menyesali perbuatannya.

Tapi kakinya serasa membatu,dan mulutnya terkunci rapat. Yang dilakukannya hanyalah melihat gadis itu berjalan lambat hingga akhirnya menghilang dibalik pintu.

Bersambung…..

*********************

//well, hello! Aku bikin ff ini disaat bosan dan hanya coret-coretan iseng ketika ga ada kerjaan. Mohon dimaklumi apabila isinya gak jelas dan terdapat banyak typo sana sini 😀 pengen buat ff cast kris tapi ga sanggup ;___; jadinya aku pake cast Oh Sehun yang menurutku cocok dengan peran ini.
enjoy 😀 Comments are loved!

-Hesti Khairani-

Iklan

about password

Published Oktober 6, 2012 by hestiikharani

Annyeonggg^^ siapa yang nungguin comeback aku kedunia per ff an? Kekke. FF love pain part 5 udah aku publish, dan passowrdnya berbeda dengan password part 4. Cara minta nya masih sama kok. Tinggal mention aku di twitter @hestiikharani dan aku bakal kirim passwordnya via dm. Gampang kan?

Bagi yang udah dpt passwordnya,selamat menikmati(?) Saran dan kritiknya ditunggu banget loh. Jadi jangan lupa leave a comments yaaa 🙂

Regards,
Hesti khairani

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

about Love Pain next part

Published September 19, 2012 by hestiikharani

Annyeong readersku tersayang *tebar abs Kyuhyun* berhubung banyak yg nanyain lanjutan love pain , aku bakal jelasin disini biar gak rempong jawab satu persatu.

Gini, Sabtu ini aku bakalan nonton smtown ina. Yuhuuu ketemu pacarku Eunhyuk dan selingkuhanku kyuhyun pwhaha *abaikan* jadii aku bakal nulis lanjutannya setelah smtown ina selesai . mungkin baru minggu depan atau minggu depannya lagi aku publish,tergantung mood dan kesibukanku , hahaha. Pokoknya pantengin aja twitterku yah. Kalo udah dipublish pasti aku umumin lewat twitter kok :)))

Pokoknya part 5 tetap bakal aku kasih password , dan cara mintanya masih sama kok , tinggal mention aku di twitter dan aku bakal kirimin passwordnya via dm . Okeh?

Kyuhyuuuunn~ssi, sampai jumpa di SMTown inaaaa :DD:D

All Love
Hesti Khairani

Dikirim dari WordPress untuk BlackBerry.

How To Get Password

Published September 8, 2012 by hestiikharani

Haiiii . I’m back with LOVE PAIN PART 4. kekke . tapi kali ini part 4 nya aku kasih password. kenapa? karena aku lelah dengan yang namanya SILENT READERS, pembaca yang hanya menikmati begitu saja ff yang sudah aku tulis tanpa memberikan komentar atau kritik dan saran. mungkin ini memang sepele bagi kalian, tapi kritik dan saran kalian berharga banget buat aku. setidaknya hargailah aku yang udah capek-capek nulis ff ini panjang lebar. nulis komentar itu gak susah kan? hanya memakan waktu 1-2 menit, menulis beberapa kalimat dan selesaaii. aku pun juga bakalan merasa dihargai dengan hal itu ^^

jadi kali ini aku putusin buat nge protect love pain part 4. bagi yang mau minta passwordnya, silakan mention aku di twitter @hestiikharani . aku bakalan DM password nya ke kalian. dan ingat, hanya DM. aku nggak kasih passwrdnya via mention, bbm, sms, fb, dll nya. hanya DM. gak susah kan? *smirk*

bagi yang udah dapat passowrdnya, silakan menikmati ff nista ini,kekeke

 

all love

Hesti Khairani